Paroki Roh Kudus

Surat Gembala Prapaskah 2020

Home / DPH Artikel / Surat Gembala Prapaskah 2020
Paroki Roh Kudus

Surat Gembala Prapaskah 2020

No. 24/G.111/II/2020

“Lingkungan Sebagai Akar yang Mendewasakan Paroki”

 

Bapak-lbu, saudara-saudari, Umat Allah terkasih,

Hari Rabu, tanggal 26 Februari 2020, adalah Hari Rabu Abu. Pada Hari Rabu Abu kita akan menerima abu di dahi, yang melambangkan perkabungan, sesal, dan tobat. Rabu Abu menandai awal masa Prapaskah yang berlangsung selama empat puluh hari, sampai tanggal 10 April 2020. Masa Prapaskah disebut sebagai masa yang penuh rahmat, masa di mana kita diberi kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan lebih rajin mendengarkan Sabda Allah, berdoa, dan berbuat amal.

Kita sebagai orang Katolik pada masa Prapaska ini diajak untuk berpuasa dan berpantang atau bermatiraga. Puasa dan pantang yang kita lakukan pada masa Prapaska merupakan sebuah latihan rohani, maka masa Prapaska juga sering disebut sebagai retret agung. Dengan demikian puasa dan pantang yang kita lakukan pada masa Prapaska bukan untuk tujuan yang lain, misalnya supaya berat badan berkurang, atau untuk berhemat. Tetapi kita memenuhi undangan Tuhan agar dengan latihan rohani tersebut, kita boleh lebih menyadari tugas dan peran kita untuk mengambil bagian dalam misteri karya penyelamatan dunia. Karena dengan latihan rohani, kita diharapkan semakin menyerupai Tuhan Yesus, dalam cara berfikir, berperasaan, dan bertingkah laku. Seperti yang dikatakan oleh Rasul Agung Santo Pulus, "Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal. 2:20). Demikian juga Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi "menaruh pikiran dan perasaan yang terdapatjuga dalam Kristus Yesus" (Fil. 2 : 5).

Pada masa Prapaska ini merupakan penegasan bahwa tahun 2020 ini bagi umat di Keuskupan Surabaya merupakan Tahun Pertobatan Bersama Murid Kristus. Kita bersama-sama juga mau membangun sikap tobat dalam pola pikir berpastoral. Maka pada masa Prapaska tahun ini, kita merenungkan, memahami atau mendalami tema Aksi Puasa Pembangunan yaitu, "Lingkungan Sebagai Akar Yang Mendewasakan Paroki". Kita mengakui bahwa selama ini Lingkungan "kurang kita perhatikan", terutama dalam mempersiapkan dan memendampingi para pengurusnya. Padahal realitasnya di Lingkungan itulah Gereja menunjukkan persekutuan yang hadir secara nyata untuk mengungkapkan imannya, serta memberikan cahaya kebenaran akan Kristus di masyarakat. Untuk itulah Lingkungan akan kita perkuat sebagai tempat untuk membangun umat. Kita melihat juga bahwa selama ini ada kendala dalam mencari pengurus lingkungan. Maka ada istilah Ketua Lingkungan seumur hidup. Apakah memungkinkan selama proses diseminasi dan pada masa pertobatan ini bisa "dijaring" pendapat bagaimana membuat sistem yang mempersiapkan kader di lingkungan agar ketika ada pergantian kepengurusan tidak mengalami kesulitan.

Disisi Iain kita melihat ada umat katolik yang tidak mau bergabung/ berkegiatan di Lingkungan, karena berbagai alasan. Hendaknya hal tersebut menjadi bahan refleksi kita. Bila di sebuah lingkungan yang mempunyai urnat dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, dan budaya itu bisa membangun persekutuan dan berkegiatan bersama dalam mewujudkan ajaran Kristus untuk saling mengasihi alangkah indahnya hidup kita. Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita membangun kerukunan dan menyebarkan Kasih. "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku" (Yoh. 13:35). Kita sungguh berfungsi sebagai garam dan terang bagi masyarakat. Karena dengan keteladanan hidup kita sebagai murid Kristus di lingkungan, orang akan terinspirasi oleh nilai yang kita lakukan (bdk. Mat. 5:13-16). Maka selama masa Prapaskah ini, kita akan merenungkan beberapa hal yang berkaitan dengan "Lingkungan" : A) Lingkungan: Cara Hidup Menggereja ; B). Keluarga Akar Lingkungan; C). Penggembalaan Umat Lingkungan, dan D). Paroki sebagai Persekutuan Lingkungan-Lingkungan.

Bapak-lbu, Saudara-saudari umat Allah yang terkasih,

Dengan itu kita mau mendewasakan paroki. Mendewasakan paroki merupakan sebuah proses, tetapi menurut saya paroki yang dewasa ada totok ukurnya yaitu, ditentukan oleh mutu iman umatnya. Kasih dan pelayanan perlu untuk meningkatkan mutu iman umat. Iman itu sangat erat kaitannya dengan perbuatan, "Jika iman itu tidak disertai perbuatan maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" (Yak. 2 : 17). Cinta kepada sesama, peduli terhadap penderitaan sesama, korban (banjir, tanah longsor, kekerasan), dan sebagainya merupakan perwujudan dari iman kita. "Anak anakku marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh. 3:18).

Demikian juga paroki yang dewasa ditentukan oleh iman umat yang kokoh-kuat, dan terlibat dalam membangun masyarakat. Tuhan Yesus senantiasa mengajak para muridnya untuk memperluas cakrawala kasih kita. Dalam Injil Hari ini kita diajak untuk belajar mengasihi siapa pun mereka itu. Tidak terbatas kepada orang yang kita senangi saja, atau kepada umat yang sama katoliknya, tetapi Tuhan mengajak kita agar kita mengasihi orang yang tidak senang kepada kita, "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang Iain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?” (Mat. 5: 46-47). Disini Tuhan Yesus mengharapkan kita leblh unggul dari orang lain dalam berbuat baik.

Karena sebagai murid Kristus kita dipanggil menjadi orang yang suci dan sempurna, seperti di katakan dalam Kitab Imamat, "Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu kudus” (Imamat 19:2). Demikian juga Tuhan mengajak agar kita semakin menjadi sempurna, "Harulah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Mencapai kekudusan dan kesempurnaan dalam kehidupan kita sebagai murid-murid Kristus bukan tidak mungkin, karena sejak awal Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa Allah, "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, ....” (Kej. 1:26). Penghambat atau tantangan dalam mencapai kekudusan dan kesempurnaan hidup adalah, egoisme, dan keserakahan dalam diri kita sendiri. Ketika kita mampu mengalahkan diri kita sendiri, maka kehadiran kita di manapun akan memberikan rasa dan makna bagi orang lain. Apalagi bila kita juga terbuka bagi apa yang benar dan suci di luar kalangan kita sendiri. “Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang dalam agamaagama itu serba benar dan suci” (Bdk. Nostra Aetate Art. 2).

Bapak-lbu, saudara-saudari Umat Allah yang terkasih,

Dengan berdoa, bertobat, dan mendalami materi Aksi Puasa Pembangunan (APP), di lingkungan, di Sekolah, di kelompok-kelompok kategorial, Sekolah Minggu (BIAK), Remaja Katolik, dan Orang Muda Katolik, semoga kita semakin memahami apa arti, fungsi/makna Lingkungan dalam kehidupan menggereja. Dalam kesempatan yang penuh rahmat ini saya sampaikan kepada Anda seluruh umat Allah di Keuskupan Surabaya berkat episkopal saya terutama kepada Anda yang mengalami penderitaan karena menjadi korban, yang sakit, yang di Stasi-Stasi terpencil, dan yang difabel. Semoga kita mampu menjalani masa Prapaskah dengan baik dengan semangat tobat dan ikhlas.


Surabaya, 10 Februari 2020
Berkat Tuhan,

 

Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono
Uskup Surabaya

 

 

PERATURAN PANTANG & PUASA
KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2020

Sesuai dengan Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa 2017, Pasal 138 No. 2.b, Tentang Hari Tobat, peraturan puasa, dan pantang ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari Puasa tahun 2020 ini, dilangsungkan pada Hari Rabu Abu tanggal 26 Februari 2020, dan Hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan (Jumat Agung), tanggal 10 April 2020. Hari Pantang dilangsungkan pada Hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Sengsara dan wafat Tuhan.
  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Sedangkan yang wajib berpantang ialah semua orang katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
  3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali (1X) sehari. Pantang dalam arti yuridis berarti tidak makan daging atau makanan lain yang disukai, dan tidak merokok. Berhubung peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka sebaiknya agar secara pribadi atau bersama-sama (dalam keluarga, biara, pastoran, lingkungan, seminari), menyepakati cara puasa dan pantang yang dirasa lebih sesuai dengan semangat tobat dan mati-raga yang mau dinyatakan.
  4. Hendaknya diusahakan agar setiap orang beriman kristiani, baik secara pribadi maupun bersama-sama, mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, tekun dalam ibadat jalan salib, meditasi, pengakuan dosa, adorasi, dan tekun mendalami materi APP.
  5. Salah satu ungkapan tobat ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang diharapkan mempunyai nilai pembaharuan pribadi dan nilai solidaritas tingkat lingkungan, paroki, keuskupan, dan nasional. Hendaknya di setiap paroki berdasarkan masukan dari lingkungan mengadakan kegiatan sosial konkret yang membantu masyarakat, misalnya donor darah, pasar murah, dan lain-lain.
  6. Hasil pengumpulan dana selama masa Prapaskah hendaknya selekas mungkin diserahkan kepada Panitia Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Surabaya, paling lambat pada tanggal 30 April 2020.