Renungan Hari Minggu Biasa XXVIII / C
2Raj 5:14-17 ; 2Tim 2:8-13 ; Luk 17:11-19
Bapak Yohanes Pasi adalah kepala keluarga yang sederhana. Ia seorang Satpam dengan gaji pas-pasan saja. Istrinya ibu rumah tangga yang sederhana. Selama 23 tahun perjalanan rumah tangga, keluarga ini mengalami banyak mukjizat. Pengalaman iman yang tidak terlupakan adalah ketika anaknya yang kedua lahir dengan operasi caesar. Biaya operasi tidak terjangkau ekonomi keluarga ini. Tetapi mereka tidak panik dan tenang berdoa kepada Tuhan. Ia membuat novena dengan perantaraan Santo Yosef Freinademetz. Pada hari terakhir novena, seorang warga paroki datang berkunjung ke rumah sakit. Ia mengunjungi keluarga bapak Yohanes Pasi yang sedang menjaga istri di ruang persalinan. Warga paroki itu hanya berbicara dengan dokter lalu pamit. Besoknya, operasi caesar berjalan lancar. Saat bertemu dokter, Bapak Yohanes tidak bisa percaya: seluruh biaya operasi ditanggung donatur yang tidak mau disebut namanya.
“Tuhan setia hadir dalam semua situasi hidup kita, asalkan kita setia mengetuk hati-Nya.”
Keluarga Bapak Yohanes percaya akan kebenaran kata-kata Rasul Sato Paulus: jika kita tekun dan setia, kita akan memerintah bersama dengan Kristus. Kesetiaan itu akan diuji dalam setiap peristiwa hidup kita. Tuhan setia, itu sebuah kepastian dalam hidup. Persoalannya adalah apakah kita setia mengikuti Dia? Sejarah ziarah kerasulan Paulus menjadi gambaran betapa Tuhan itu setia menguji keuletan kita dalam mengikuti Dia. Pengalaman jatuh bangun adalah batu ujian iman kita kepada Tuhan.
Orang yang beriman akan melihat semua pengalaman itu sebagai jalan untuk memurnikan iman kita kepada Allah. Ibarat emas yang menjadi murni dalam api yang bernyala.
Kisah penyembuhan sepuluh orang kusta dalam Injil hari ini mengajarkan bagaimana Yesus menguji iman mereka akan kasih setia Allah yang menyembuhkan. Allah melepaskan kusta yang sekian tahun mengotori tubuh mereka. Allah menyelamatkan muka orang-orang kusta ini yang telanjur dipandang oleh warga Yahudi sebagai hukuman dari Allah atas dosa orang tua dan keluarga. Kesepuluh orang kusta itu sembuh. Pengalaman iman ini hanya menyadarkan satu orang kusta yang disebut “orang asing” bukan masuk bangsa Yahudi yang datang menyampaikan syukur kepada Tuhan. Yesus justru mengecam kesembilan orang kusta lainnya yang lupa untuk bersyukur kepada Tuhan. Kesembuhan dari kusta justru menutup suara hati untuk bersykur atas rahmat kasih setia Allah yang besar dalam hidupnya. Orang-orang ini lupa bersyukur atas mukjizat yang telah dialami berkat rahmat kasih setia Tuhan.
Hidup kita adalah mukjizat Tuhan yang besar. Kita telah menerima begitu banyak anugerah dan rahmat dalam hidup. Semua rahmat itu kadang menjadi ujian iman kita: apakah kita mampu bersyukur atas semua itu? Ataukan kebahagiaan itu justru menutup mata nurani kita untuk bersyukur kepada Tuhan? Kita mesti seperti “orang asing” dalam barisan sepuluh orang kusta itu yang dipuji oleh Yesus karena beriman: tahu bersyukur atas rahmat penyembuhan. Beriman dengan tekun melalui doa, ekaristi dan kegiatan rohani lainnya akan membuat kita peka dengan semua peristiwa dalam hidup kita. Ketekunan dalam iman akan membuahkan mukjizat seperti yang dialami keluarga bapak Yohanes dalam kisah di atas. Iman kepada Tuhan akan selalu menginspirasi kita untuk setia bersyukur kepada Tuhan atas semua peristiwa hidup kita. Juga ketika kita mesti memikul salib dalam nama Kristus. Berkat Tuhan menyertai kita. Amin.